Tradingan.com - Hari sudah gelap berkabut malam nan pekat, namun Dina belum juga pulang. Tadi saat bicara via telepon genggam, ia bilang pada Dudung suaminya bahwa ia ikut teman-temannya dulu jalan-jalan seusai pulang sekolah. Dina memang kebagian jadwal sekolah dimulai dari siang sampai sore hari. Tapi Dudung kelihatan sangat gelisah sekali malam itu, bahkan sejak siang hari tadi.
Bukan kecemasannya pada Dina istrinya yang belum pulang itu yang menyebabkan hal tersebut. Namun nafsu birahinya hari itu begitu meledak-ledak tak tertahankan mempengaruhi libidonya serta sudah mencapai puncaknya. Kedua pembantu rumah itu telah pulang sejak sore hari. Mereka berdua memang bukan pembantu yang menetap di rumah besar dan cukup mewah tersebut, sehingga kini di rumah itu tinggal Dudung sendirian yang tengah menanti kepulangan istri termudanya.
Dina muncul di pintu kamar dengan seragam sekolah putih abu-abu yang dikenakannya sejak siang hari tadi. Dudung semakin bertarung dengan kalbunya yang sedari tadi memenuhi benak maksiatnya di kepala. Pandangan Dina masih saja acuh tak acuh padanya, tetap menunjukkan keangkuhannya pada dirinya yang telah ia rasakan sejak malam pertama mereka resmi menjadi pasangan suami istri. Namun kini ia mendapat balasan ekspresi wajah yang tak pernah ia dapatkan sebelumnya dari suaminya yang tua ini. Wajah Dudung kini begitu garang menghampiri keberadaan dirinya yang tengah melangkah menuju kamar mandi di kamar itu. Sorot matanya begitu tampak mengerikan di mata Dina. Namun tangan Dina telah tercekal oleh Dudung.
“Mas?! Mau apa kamu?!!”
“Mau apa?! Aku ingin menuntut hakku atas dirimu!”
“Apa-apaan kau Mas?! Aku sudah capek sehabis jalan-jalan dengan teman!”
“Hmm?! Capek?! Kapan kamu pernah bilang bahwa kamu tidak capek? Aku sudah jenuh mendengar segudang alasanmu!”
Dina berusaha melepaskan tangannya yang tercekal itu, namun Dudung begitu kuat mencengkram tangan mungil nan halus miliknya. Kelopak mata indah milik Dina nan biasanya begitu angkuh di mata Dudung, kini mulai berkaca-kaca menuntut belas kasihan pada suaminya itu.
“Lepaskan aku! Ahh.. Tolong!”, jerit Dina akhirnya.
“Percuma saja engkau berteriak! Takkan ada yang mendengar!”, balas Dudung.
Terkait
Dan memang benar rumah besar itu sedemikian rapat struktur bangunannya, sehingga suara-suara dari dalamnya dapat teredam. Terlebih lagi di kamar itu daun pintu dan jendelanya terbuat dari kayu jati asli nan tebal. Dudung melemparkan tubuh Dina yang masih lengkap dengan sepatu seragam sekolahnya ke ranjang. Dina pun terjerembab di atas kasur mewah tersebut, belum lagi ia sempat bangun, Dudung telah menyusul menerkamnya bak singa lapar mendapatkan mangsanya.
Permohonan Dina tak digubrisnya sama sekali malam itu. Dudung sibuk mengikat istri ketiganya itu di atas ranjang dengan tali yang telah ia persiapkan sebelumnya. Dan ia mengikat pergelangan tangan kanan Dina dengan mata kaki kanannya, demikian pula tangan kiri diikat menjadi satu dengan kaki kirinya. Lanjut baca!

0 Response to "Tirai Perkawinan Terkoyak Karena Anal Seks 2"
Post a Comment