Tradingan.com - Menjelang akhir 2025 resesi ekonomi masih parah. Situasi ini membuat banyak perusahaan mengurangi karyawannya. Tapi beruntung di perusahaan saya hal seperti itu tidak terjadi. Memang banyak bisnis yang ditunda atau dibatalkan, tetapi kualitas karyawan malah ditingkatkan. Diantara program itu adalah pelatihan persiapan menghadapi Y2K tahun 2025 bagi seluruh karyawan. Karena banyak pesertanya, pelatihan dilakukan sampai 10 gelombang, dengan jumlah 40 peserta di setiap gelombang. Setiap pelatihan memakan waktu 4 hari, dan dilakukan dua minggu sekali. Sebagai staf yang bekerja di bagian personalia, tugas saya adalah menghubungi tempat latihan.
Saat itu banyak tempat latihan yang menawarkan harga miring. Mungkin mereka banting harga karena krisis ekonomi menyebabkan tempat mereka jadi sering kosong. Kami memilih salah satu tempat pelatihan di puncak. Pelatihan pun berjalan lancar sampai gelombang ke empat. Di setiap akhir pelatihan, saya selalu pulang terakhir, bahkan menginap satu malam lagi, untuk mengurus adminsitrasi. Tiba di gelombang V terjadilah kisah ini.
Menjelang acara penutupan yang biasanya dilakukan jam 4 sore, seorang karyawati bagian humas, sebut saja namanya Srini dan saya biasa memanggilnya si Cantik, mendekati saya dan minta ijin untuk tinggal di kamarnya lebih lama karena suaminya akan menjemput sekitar jam delapan malam. Padahal acara biasanya berakhir pukul 5 sore. Setelah saya diskusikan dengan manajemen yang mengelola tempat pelatihan, mereka mengijinkan, tapi hanya satu bungalow saja. Itu berarti Srini harus pindah ke bungalow yang biasa disediakan untuk panitia. Untungnya bungalow di tempat pelatihan itu bertingkat dua, sehingga Srini bisa menempati tingkat atas, sementara tempat panitia termasuk aku ada di lantai bawah. Tanpa menunggu acara penutupan, iapun memindahkan barangnya yang sudah dikemas dalam tas.Acara penutupan berakhir dan Srini meminta kunci bungalow untuk menunggu suaminya disana. Karyawan lain peserta pelatihan pulang dengan mobil yang disediakan perusahaan. Sedangkan saya harus membereskan berbagai peralatan. Saya kembali ke bungalow setelah para driver berangkat ke Jakarta membawa peralatan. Driver yang biasa mengantar sayapun ikut, karena banyaknya peralatan yang harus dibawa hari itu, dan ia berjanji akan menjemput saya esok pagi. Itu artinya saya harus menginap lagi. Dengan setumpuk dokumen saya kembali ke bungalow sekitar jam tujuh malam dan mendapati si Cantik tengah nonton TV di lantai bawah. Ia memakai jeans dan kaos yang dibalut dengan jaket. Rambutnya sebahu dan disisir rapi, seperti pragawati saja. Ia tersenyum melihat saya masuk sambil terus nonton TV.
Wajah bulatnya kian manis ketika tersenyum. Dia tanya kapan saya akan pulang ke Jakarta. Saya bilang mungkin besok, karena banyak yang harus saya urus. Dia mengajak saya pulang bersama suaminya yang sebentar lagi datang. Saya bilang terima kasih, tapi saya biasa mengerjakan tugas akhir sampai jam sebelas malam. Hubungan saya dengan si Cantik ini memang baik, bahkan boleh dikatakan akrab. Saya pun mengenal suaminya, yang bekerja di suatu perusahaan komputer milik asing, karena sering menjemputnya di kantor. Jika suaminya tidak menjemput saya sering dititipkan untuk mengantarnya pulang naik bis, karena rumah kami satu arah. Si Cantik ini memiliki tubuh yang ramping, meskipun ia sudah punya satu anak. Keistimewaannya ada pada bibirnya yang ranum dan matanya yang cerah. Aku mengambil HP dan menelpon istriku, untuk memastikan semua baik-baik saja di rumah dan memberitahu bahwa aku akan pulang esok hari. Lalu aku mengambil handuk dan mandi.
Si Cantik menggodaku dengan mengatakan bahwa pantas bungalow ini harum, rupanya ada yang belum mandi. Aku bilang bungalow ini harum karena ada bidadari masuk dan nonton TV. Tiba-tiba HP Srini berdering.
“Ya, Mas ada dimana sekarang?”
“Lho katanya jam delapan”
“Saya di tempat panitia. Ada Mas Riki.”
“Besok pagi, sekitar jam..”
Ia menoleh ke arahku.
“Mas Riki besok pulangnya jam berapa?”
“Aku.. Biasanya jam 10. Kalau urusan udah beres”
“Jam sepuluh katanya. Memangnya kenapa?”
“Oke deh. Kutunggu yach? Nanti telepon lagi”
Ia menoleh kembali ke arahku.
“Mas Riki, kata Mas Samsi dia mungkin terlambat, sekitar jam 10 dia baru sampai. Katanya banyak kerja yang harus ia selesaikan. Nggak apa-apa kan sampai jam 10?”
“Ah, nggak apa-apa. Mau nginep disini juga boleh” jawabku sambil senyum nakal.
“Wah, bisa berabe.” Katanya.
“Kenapa?” tanyaku selidik.
“Dua-duaan satu bungalow. Apa orang nggak curiga?” tanyanya balik sambil nyengir.
“Biar aja, yang penting kita nggak ngapa-ngapain..” jawabku sambil masuk ke kamar mandi.
Kamar mandi bungalow ini bagus, meskipun terbuat dari kayu. Aku merasakan dingin mulai menusuk. Angin terasa masuk dari celah kayu. Aku harus mandi, agar rasa dingin berkurang. Sambil bersiul aku mengguyur badanku dengan air dan menggosoknya dengan sabun.. Selesai mandi aku duduk di depan laptop yang ada di kamarku dan memasukkan data. Aku memakai training dan kaos dengan jaket tipis kesukaanku. Aku teringat sesuatu.
“Mbak sudah makan?” tanyaku agak keras, karena dari kamar.
“Gampanglah nanti saja.”
“Kita makan yuk. Daripada nanti pulang malam-malam cari makanan susah.”
“Dimana?”
“Di kantin.”
“Yuk deh.” Katanya sambil mematikan televisi.
Kamipun makan. Di luar grimis sehingga kami harus berlari-lari kecil agar tidak basah. Meskipun bungalow gratis, makan harus tetap bayar. Srini ingin membayar, tapi aku mendahuluinya. Pulang makan ia kembali nonton TV dan aku pun kembali bekerja. Jam setengah sepuluh HP Srini kembali berdering. Baca selengkapnya!

0 Response to "Viral Cerita Sex Love Before Y2K 1"
Post a Comment